Tanamkan Nilai dan Budaya Hidup Bersih, LPPM UNAS Maksimalkan Peran Perempuan Islam

Facebook
Twitter
LinkedIn
Print
Email
WhatsApp
Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Nasional meyakini bahwa perempuan memiliki keunggulan dan kelebihan dalam menanamkan nilai dan budaya tersebut kepada orang lain.

Jakarta [UNAS] – Hidup bersih merupakan dambaan setiap orang. Namun demikian, nilai – nilai serta budaya untuk hidup bersih ini masih belum tertanam dan diaplikasikan dengan baik dan benar, sehingga masih diperlukan pembinaan dan penyuluhan untuk mengubah pola pikir dan tingkah laku menuju hidup bersih. Untuk mewujudkan hal tersebut, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Nasional meyakini bahwa perempuan memiliki keunggulan dan kelebihan dalam menanamkan nilai dan budaya tersebut kepada orang lain. Beranjak dari permasalahan terkait air, sanitasi dan higiene, LPPM Unas bersama dengan dengan Alliance of Religion and Conservation (ARC) United Kingdom pun mengajak perempuan – perempuan dari lintas instansi dan bidang untuk bersinergi dalam menanamkan nilai dan budaya hidup bersih kepada masyarakat Indonesia.”Perempuan sangat berperan dalam pendidikan di dalam rumah. Kaum perempuan berperan sangat besar dalam menanamkan kebiasaan baik. Dalam kaitannya dengan air dan sanitasi, perempuan juga sangat berperan sekali. Contohnya saja sistem untuk mandi, seorang Ibu pasti memikirkan bagaimana cara untuk menghemat air,” ungkap salah satu narasumber dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Nasional, Ir. Etty Hesthianti, M.Si, dalam dialog bertema “Peran Perempuan dalam Pengelolaan Sumber Daya Air, Sanitasi, dan Higiene untuk Kesejahteraan Masyarakat Berlandaskan Ajaran Islam” yang diselenggarakan di Hotel Santika – Taman Mini Indonesia Indah (TMII) – Jakarta Timur, Selasa (16/9).

Kegiatan tersebut dihadiri oleh perempuan lintas institusi yang memiliki pengaruh serta berperan penting dalam pembangunan nasional Indonesia, yaitu PP Muslimat NU, Dr. R. Yani’ah Wardani, MA, PP Wanita Islam, Dra. Hj. Sri Wartini, delegasi Universitas Al – Azhar Indonesia, Masni Erika Firmiana, Muslimat Center DDII, Siti Aminah, SE.,M.Si, PP Persistri, Resya Nurhaeti, PP Muslimat Dewan Da’wah (MDDII), Eti Yulianti, S.Pd.I, delegasi Sekolah Pascasarjana UNAS, Ummu Salaman, S.Ag.,MA, BMT Bumi, Dra. Agusniar Trisnamiati, M.Si, Yayasan Cikal Madani, Husna, M.Ag, PPSW – Jakarta, Pandhes Tri Saputro, LPPM ISTA, Dra. Diah Kusmardini, M.Si, LPPM Universitas Al Azhar, Siti Rahmawati, M.Psi, Psi, Dekan FIKES Unas, Dr. Rosmawaty Lubis, M.Kes, Dosen Fakultas Biologi Unas, Dr. Retno Widowati, M.Si, dan Mimi Husmiaty Hasyim.

“Kita ketahui bahwa wanita sejatinya memang lebih responsif terhadap hal – hal yang berkaitan dengan sanitasi. Terlebih, perempuan adalah insan yang paling sering menjadi pengguna, penyedia dan pengelola di rumah. Selain itu, peran perempuan dalam merubah perilaku, khususnya dalam rumah tangga itu juga besar. Oleh sebab itu, melalui dialog dan pertemuan ini sebenarnya kita sudah memiliki kekuatan dan tinggal bagaimana legalitasnya saja,” ungkap Direktur Penyehatan Lingkungan Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan RI, Dra. Cucu Cakrawati K, M.Kes yang juga hadir sebagai pemateri dalam kegiatan itu.

Senada dengan Ir. Etty, Ketua Ikatan Sarjana Wanita Indonesia (ISWI), Dr. Ir. Retno Sri Endah Lestari juga mengutarakan bahwa permasalahan yang paling mendasar saat ini adalah bagaimana mengubah kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik menuju hidup bersih, paling tidak melalui penanaman budaya malu. “Prinsipnya adalah kita menganjurkan dan memberikan penyuluhan kepada orang – orang atau warga terdekat kita untuk membudayakan hidup bersih, seperti stop buang air besar sembarangan dan mulai membangun jamban. Dalam hal ini, peran perempuanlah yang penting untuk menanamkan nilai serta kebudayaan tersebut, dan laki – laki akan berperan lebih ke arah teknis pembangunannnya. Jadi, harus ada penyuluhan terhadap hal – hal yang tabu atau tidak boleh secara berkesinambungan,” imbuh Retno.

Pemateri lain yang juga hadir dalam kegiatan tersebut adalah Pengelola Kampung Agro Wisata Rawajati, Niniek Nuryanto, dan Pimpinan Pusat Pemberdayaan Masyarakat Pertamina (PPMP) Bunyu Field, Dr. Ir. Nonon Saribanon, M.Si.